Thursday, April 27, 2006

Odol = MP3 Player

Produk MP3 player 'kacangan' dimirip-miripin dengan iPod sudah biasa. Setelah kasus Luxpro yang membuat kembaran iPod shuffle, kini makin menjamur kembaran-kembaran atau imitasi iPod. Appearance nya bisa bikin orang keliru beli kalau kebetulan lagi mabok minum Topi Miring atau tripping. Seperti yang direport Daniel Cheng dari Taipei Times, lingkaran dial khas iPod secara sekilas menunjukkan identitas produk iPod asli bikinan Apple. Dan mereknya pun Nano.

Lain lagi dengan apa yang gue lihat hari ini di Glodok Elektronik, arteri Pondok Indah. Sejalan dengan apa yang diposting Wicak (link) & Nanda (link) di milis id-apple beberapa waktu lalu, gue melihat produk MP3 player yang tidak mirip dengan penampilan iPod tapi menggunakan brand iPod seperti di bawah ini. Tentu saja ada yang mirip iPod (warna putih seperti iPod Nano) dengan brand iPod.

Photobucket - Video and Image Hosting

Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting

Whoa, terjadi pelanggaran hukum tentang merek dagang! Biar laku, produknya dikasih nama iPod!
Atau.... malah terjadi pergeseran brand atau merek dagang ke nama jenis produk. iPod bukan merek dagang, bung! iPod adalah jenis MP3 music player!

Saat beli MP3 Player di sebuah toko, sebut saja iPod, maka akan banyak pilihan dari berbagai merek Samsung, Creative atau iPod itu sendiri. Hal ini persis dengan bentuk ketersesatan kaprah lain seperti Aqua untuk air mineral & Odol untuk pasta gigi. Sebelumnya sempat baca di sebuah artikel di web, Delon diwawancara reporter tentang iPod - seperti yang gue kutip sebelum artikel ini diperbaiki (artikelnya sendiri memang sudah diperbaiki, tapi Comment pembacanya masih ada) :

Dari empat Ipod yang dimiliki Dellon ternyata Sony semua loh!, dari yang 4GB sampai yang 40GB. "Bukannya mau pamer kalau maniak Sony, tapi kebetulan empat Ipod aku itu semuanya dikasih orang," ujar Dellon malu-malu saat ditemui di Hotel Ritz Carlton beberapa waktu yang lalu.
(btw, seharusnya Delon, bukan Dellon ;))

Wajar saja, iPod juga sudah menjadi icon. Evolusi sebuah brand bisa saja terjadi dan bergeser menjadi istilah umum - walau salah kaprah berat. Seperti yang disebutkan Arnold Siboro di milis id-mac beberapa waktu lalu, orang menyebut Walkman untuk semua Portable Cassette Player, padahal Walkman adalah brand milik Sony.

Sah sah saja. Namanya juga manusia. Biarian saja yang pusing (atau malah happy) pak de Steve Jobs dan baladewa-nya di Infinite Loop sana.

Salah kaprah toh sudah bagian dari pergaulan kita. Kalau perlu, kita bikin istilah salah kaprah baru saja biar makin ramai, makin ngawur dan makin kesasar. MP3 Player
kita ganti istilahnya saja, bukan iPod, bukan Walkman, bukan Aqua... tapi Odol!
Lho kok pasta gigi? Yha biar saja.. salah kaprah kok nanggung.

Hidup Odol!!!

Friday, March 10, 2006

Kisah Klasik : Mac vs PC


Saya mau cerita tentang situasi terkini kantor saya (sekali-sekali boleh dong katarsis). Agar saya tidak dooced dan dipecat (semoga), saya tidak akan sebutkan perusahaan tempat saya bekerja.

Beberapa teman-teman desainer grafis di tempat saya bekerja resah. Ada wacana dari pihak manajemen untuk menggantikan platform Mac yang selama ini kami gunakan dengan PC (Windows). Salah satu pertimbangannya adalah : PC sudah menjadi platform standar di semua perusahaan sejenis tempat saya bekerja. Pertimbangan lainnya adalah agar tidak lagi terjadi kesimpang-siuran standar teknis peralatan, sehingga memudahkan untuk sentralisasi perawatan dan perencanaan upgrade peralatan di masa mendatang. Atas nama efisiensi (secara umum), jelas pertimbangan ini masuk akal.

Namun apakah efisiensi ini berlaku bagi desainer grafis yang sangat bergantung pada penguasaan alat tertentu, dalam hal ini Mac? Analoginya, seorang pelukis cat minyak yang sangat bergantung pada kualitas kuas & cat minyak Windsor & Newton diharuskan bekerja menggunakan sebuah pensil Staedler. Tentu saja kreativitas seseorang tidak akan bisa dibatasi oleh keterbatasan tools tertentu dalam menuangkan ekspresi karyanya, namun bukan itu inti permasalahannya. Permasalahannya adalah jika sebuah perusahaan memperkerjakan seorang pelukis, maka sudah seharusnya dipekerjakan sesuai dengan spesialisasi dan kekuatan skill-nya.

Dari analogi tersebut, ada pertimbangan teknis dan non-teknis yang membuat saya & beberapa teman-teman desainer grafis merasa cocok dengan Mac.
Pertimbangan teknis bisa terjabarkan secara rasional, beberapa diantaranya :
- Software Motion & FinalCut Pro (sudah menjadi 'gacoan' kami)
- Harmonisasi kerja antar software grafis (terjaganya kualitas elemen warna, font, image dll)
- Maintenance OS yang sangat mudah (maklum, kami bukan teknisi)
- dan tentu saja, sejauh pengalaman kami MacOS X sangat amat jarang bermasalah - sangat stabil walau software rakus memory jalan bersamaan (rendering 3D sambil touch-up image & preview QuickTime dengan alpha key!). It's the most stable OS in the world! Silakan baca PC Magazine & PC World. (hey.. it's PC magazine! *wink!*)
Pertimbangan non teknis, sayangnya tidak bisa terjabarkan secara rasional. Karena menyangkut kebiasaan, kepekaan rasa, ekspresi jiwa, kreativitas, easy-to-use, fun (Hei! Kerja kok fun??!!) dan seabreg alasan yang tidak compatible dengan nalar manajemen perusahaan tempat kami bekerja. Sebuah pertimbangan yang hanya bisa dijelaskan secara analogi seperti di atas.

Ya, banyak PC graphic designer out there, namun Mac adalah tools yang paling tepat bagi kami untuk berkreasi, berkarya dan memberikan yang terbaik bagi perusahaan yang - alhamdulillah - kualitas kerja kami juga tidak perlu dipertanyakan lagi. Ironisnya, sebagai kaum yang 'berbeda' di perusahaan, kebutuhan kami untuk melakukan kewajiban, tanggung jawab & tugas secara optimal tampaknya terabaikan. Apalagi dengan kondisi musim kemarau kreativitas yang sedang melanda perusahaan tempat kami bekerja.

"A tool can be used many ways. A metal sculptor can make a beautiful piece of art, an idiot can smash something with it. It's the user who decides. This is our whole companies way of doing business not just the IT department."

Useful links :
http://www.macintouch.com/macjust.html
http://www.marrathon.com/whymac.html
http://www.macgalaxy.com/pages/info/info_why_mac.html

Friday, January 06, 2006

What's playing in Arwen's iPod?

Image hosted by Photobucket.com

Walau masih piyik, Arwen sudah mulai bisa menikmati musik favorit yang dimainkan di iPod nano-nya. Dengan bantuan pilihan bapak & ibunya, Arwen akur kalau sudah musik-musik soundtrack orchestra yang dimainkan. Juga penyanyi Diana Krall, Norah Jones, Dido atau Sade selalu hadir menemani saat menjelang tidur.

Sekarang musik favorit Arwen bisa dilihat di bagian "My iPod These Days" di blog ini. Melalui www.last.fm, musik yang sedang dinyalakan bisa langsung ter-update di blog ini. Saat ini favoritnya Norah Jones, Randy Edelman (soundtrack Kindergarten Cop), Sting (soundtrack Sabrina), Harry Gregson-Willieams (soundtrack Chronicle of Narnia), David Benoit & Diana Krall. Untuk melihat musik yang sedang main di rumah kami, klik di sini.

Saturday, April 30, 2005

iBabyBrain

Artefacts from the Future

Image hosted by Photobucket.com

iBabyBrain ini adalah alat untuk men-setup perkembangan otak bayi yang berusia dari 0 - 3 tahun. Anda tinggal mengatur seluruh rencana perkembangan dan pertumbuhan bayi di Macintosh anda. Setelah selesai direncanakan, anda harus membuat simulasi-nya terlebih dahulu di komputer, sehingga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dapat dideteksi secara dini. Komputer otomatis akan memberi tahu kepada anda bahwa data aman dan siap untuk didownload ke otak bayi anda melalui modul iBabyBrain melalui kabel Ultra FireWire 100G.

Image hosted by Photobucket.com
(click for larger image)
Selain mengatur perkembangan otak, iBabyBrain juga bisa mem-backup seluruh memory otak anda, sehingga jika terjadi kerusakan pada otak bisa di-restore lagi seperti sedia kala tergantung pada file data yang disimpan. Software ini juga dilengkapi dengan feature schedule yang otomatis akan mem-backup memory otak dalam interval waktu yang diinginkan.
Feature yang tidak kalah menariknya adalah BrainWash, yang menghapus seluruh memory otak bayi anda jika memang ternyata perkembangannya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Dengan BrainWash, perkembangan otak nya bisa dimodifikasi lagi sesuai dengan umur bayi tanpa harus memulai lagi dari awal.
Spec & requirement :
- Macintosh G20 minimum 1,5 petahertz dengan port Ultra FireWire 100G
- MacOS 20th or better
*Karena peralatan ini berhubungan langsung dengan keselamatan jiwa maka Macintosh dipilih sebagai platform utama dengan alasan stabilitas hardware & software yang sudah terjaga selama bertahun-tahun.
catatan : pada saat snapshot ini dibuat, interface Mac-nya sedang menggunakan theme Aqua Classic pada software ShapeShifter versi 35/2015

Sunday, April 24, 2005

US$ 500 Mac in 1996

Artefacts from the Past

Lagi ngoprek majalah bekas gue di rumah ortu, nemu majalah MacUser terbitan April 1996 yang mengulas sebuah prototype produk Apple/Mac seharga 500 dollar AS. Gile jaman itu rupiah masih berkisar 2000-an per 1 dollar, yang berarti harganya sekitar 1 jutaan rupiah per unit.

Image hosted by Photobucket.com
Buat Mac user karatan pasti sudah tahu lah yang dimaksud produk apaan. Tahun itu, Apple kerja sama dengan Bandai mau bikin game-playing machine (game console), plus dengan fungsi internet-surfing machine dengan nama Pippin. Kira-kira fungsinya sebagai home entertainment. Pippin jalan menggunakan scaled-down Mac system software dengan prosesor 66 Mhz PowerPC 603 dan RAM 6 mb.
Sayangnya, positioning Pippin ngga jelas (cheap Macintosh, expensive game console), ngga punya kemampuan 3D graphic rendering seperti layaknya game console, ngga ada hard disk dan tidak adanya dukungan developer saat itu (developer menganggap Pippin sebagai 'unproven platform'), membuat Pippin 'tewas' dengan waktu yang singkat.

Tampaknya memang sudah sejak dulu Apple berusaha mati-matian membuat produk dengan harga murah. Jaman itu, Apple memproduksi berbagai macam 'low-cost' Mac seperti LC, Centris, Performa termasuk proyek Pippin tapi justru membuat Apple makin sekarat. 8 tahun kemudian setelah Pippin 'US$ 500', Apple baru nemu cara yang tepat untuk memproduksi dan menjual komputer murah saat Mac Mini lahir dengan harga US$ 499. Ternyata, ngga gampang bikin komputer murah :P .. d'oh!

Btw, iseng gue scan artikel majalahnya (sori ngga sempet nge-OCR-in dan nge-PDF-in). Selamat membaca.
Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com
Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com
More about Pippin :
http://www.macgeek.org/museum/pippin/

Friday, April 01, 2005

Rame-rame jualan iPod

Image hosted by Photobucket.com
Satu lagi hadir toko jual produk Apple di Jakarta. Kali ini di Plaza Senayan, selantai dengan Kinokuniya book store. Buset, kayanya lagi musim pada jualan Apple. Mengingatkan gue pada jaman dahulu (era awal 90-an), betapa ngamprah toko jual produk Apple dan Macintosh. Dulu toko-toko tersebut berkesan eksklusif dan mahal (maklum yang dijual barang-barang Apple yang berlabel komputer mahal kelas atas). Gara-gara popularitas iPod yang meroket, kini hampir semua toko gadget jual iPod. Lihat saja ke Ratu Plaza, betapa ngamprah berjejer terpajang iPod di hampir semua etalase toko. Ada yang sambilan menjajakan iPod, ada pula yang jual iPod plus produk-produk Apple lainnya seperti Mac Mini.
Pada rame-rame jualan iPod (plus produk Apple) di Indonesia menurut gue hanya salah satu dari fenomena ledakan bisnis semata. Apalagi hanya triggered by trend, mode & fashion, dan tentu saja pergaulan. Maaf jika gue agak skeptis dalam hal ini. Sering banget gue temui para penjual produk tersebut ngga dilengkapi dengan product knowledge yang memadai, seperti yang pernah gue alami di sebuah toko di Pondok Indah Mall. Pun calon pembeli yang ikut ketularan demam iPod, datang membeli sambil mengatas-namakan 'demi pergaulan'.
Sampai kapan popularitas iPod ini berlangsung di Indonesia? Sama ngga sih karakter pembeli/peminat iPod Indonesia dengan orang-orang di Amrik atau Eropa misalnya?
Jika memang orang-orang kita hanya sekedar ngikut-ngikut, bisa jadi strategi Apple untuk menggiring orang supaya switch dari Windows ke Macintosh ngga jalan sempurna. Seperti yang kita ketahui, skenario Apple adalah : iPod 4G -> iPod mini -> iPod shuffle -> Mac Mini - eMac - iMac (iBook) - PowerMac (PowerBook). Seharusnya hal ini menjadi tugas para penjual, tugas untuk EVANGELIZE PEOPLE. Agar para pembeli/peminat iPod bisa melek Apple secara umum, ngga sekedar ngikutin trend semata yang umurnya pendek.
Bagaimana pun, menjual produk Apple tidak sama dengan menjual barang komputer atau elektronik biasa.

Thursday, March 31, 2005

iPod Shuffle Skin khas Indonesia

Ada rumor bahwa Apple telah menunjuk satu perusahaan asesori di Indonesia untuk membuat desain corak bungkus karet (rubber casing) iPod Shuffle khas Indonesia. Dari beberapa desain yang dirahasiakan, ada beberapa desain yang berhasil terungkap.
Image hosted by Photobucket.com
Menurut sumber yang tidak ingin disebutkan namanya, desain tersebut di atas adalah versi Grafiti Bak Truk. Dan dikabarkan masih ada beberapa versi lainnya, seperti versi gambar Tokoh Politik Indonesia, versi Pahlawan Nasional, versi logo/lambang Kabupaten seluruh Indonesia, versi baju adat kawinan dari beberapa daerah & versi slogan "Life is Random" dalam 3 bahasa daerah : Jawa, Batak dan Papua. Kemungkinan desain ini akan dipasarkan pada saat Lebaran nanti - sebagai hadiah oleh-oleh mudik. Wanna get any of those? Ewww...!!!

Saturday, March 05, 2005

Nursery Room di Ratu Plaza

Bagi yang punya bayi dan lagi jalan-jalan di Mall pasti salah satu prioritas aktivitas adalah cari fasilitas nursery room buat melakukan kegiatan perbayian seperti ganti popok atau kasih susu. Kebetulan kami dan Arwen jalan-jalan ke Ratu Plaza ngga nemu fasilitas tersebut (entah belum ketemu atau memang ngga ada) padahal Arwen sudah pengen nyusu. Alhasil, kita mampir ke toko e-Store-nya pak Biyanto & Bibin sekalian lihat-lihat. Waahhh.. look toko-nya 'Apple-Centre' bang-get. Kayak masuk Indomaret tapi isinya Apple stuffs. Tanpa babibu Dita langsung ambil kursi dan kasih susu ke Arwen.

Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com
Si Arwen yang tadinya rewel tiba-tiba terdiam, matanya melihat sekeliling mengamati G5, iPod, iMac (ngga cuma bapaknya ternyata yang ngiler lihat barang-barang tersebut). Walau memang Arwen lagi suka ngiler, tapi gue yakin dia sebenarnya ngiler sama iPod mini yang ditunjukin ibunya.

Image hosted by Photobucket.com
Sementara si Bibin sibuk melayani pengunjung yang ngga habis-habis. Mukanya keliatan capek tapi sumringah, kebanjiran order. "Cuma beberapa hari iPod udah ludes. Mac Mini juga kehabisan stock mulu. Banyak banget yang pesen," katanya. Salah satu pengunjung yang anggota milis id-Mac juga (pak de Maman Fathurrohman, yang gue lupa nick di milisnya) sambil geleng-geleng "Gile.. di sini duit kaya kaga ada artinya. Ngalir gitu aja, pada beli iPod, PowerBook, iMac, Mac Mini... ck ck ck." Si Bibin cengengesan, apalagi pas gue bilang, "Iya, sementara gue mau apply kredit Mac Mini belum bisa di e-Store. Kasian dee yang kere kayak gue pengen Mac Mini." Sementara salah satu pengunjung sibuk mencatat di kertas, daftar software-software yang dibutuhkan. Huehehehehehe... Gue bilang Bibin, suruh gabung aja di milis.

Image hosted by Photobucket.com
Sampai akhirnya si Arwen selesai mimik susu pun kebetahan ngiler di e-Store seperti bapak & ibu nya. Jadi kalau ke Ratu Plaza, bawa bayi dan butuh nursery room, datanglah ke e-Store. Dijamin satu keluarga merasa 'nyaman' dan droll-ing.

Thursday, February 10, 2005

Plin plan gara-gara Mac Mini


*dialog dengan PowerBook G3 Pismo gue*
Pinot : I think I'm in love with her.
Pismo : Siapa?
Pinot : Mac Mini
Pismo : Lho kok? Kemarin-kemarin sudah yakin ngga bakal ngelirik tuh barang!!
Pinot : Iya sih...
Pismo : C'mon... she's not that good!
Pinot : according to her price, she's great!
Pismo : RAM 256 Mb? Slow HD? No audio in? 32mb ATI Radeon?
Pinot : Still better than you.. d'oh! Toh bisa diupgrade RAM-nya
Pismo : Bakal sampai 10 jutaan dong. Belum monitor, keyboard & mouse.
Pinot : Fine with me.
Pismo : You're getting irrational! Dengan harga sama, lo bisa dapet G4 Desktop 800 mHz - 1 gHz second!
Pinot : Coba, gue beli lo berapa dulu dari Remiel? 8 juta utk 500 mHz, RAM 512 mb, Airport card, HD 30 gb.
Pismo : Itu kan dulu! Hampir 2 tahun lalu!
Pinot : At the same price, dulu gue bisa dapet G4 500 mhz.
Pismo : So what's your point?
Pinot : Gue beli karena perasaan gue terhadap lo kuat. Gue cinta sama lo. Black, sleek, sexy and the latest generation of PowerBook G3.
Pismo : *blushing*
Pinot : Jangan jeles dong.
Pismo : *diem*
Pinot : Entahlah, seperti waktu gue lihat lo, sekarang ada getar yang sama pas gue lihat si Mini. The same vibe.
Pismo : Plin plan lu. Katanya no Mac Mini! *nada tinggi*
Pinot : Kali ini gue yakin, walau sempet ragu. Maklum lagi jatuh cinta. Kadang emosi yang nongol, kadang akal sehat yang nongol.
Pismo : Sekarang apa yang nongol? Perasaan & emosi sesaat?
Pinot : Kombinasi keduanya. Tahu nih.. gue bingung.
Pismo : Gue diduain dong.... Sama kaya Quadra lo, Blue & White 3 lo, PB 1400 lo... Bukan diduain lagi tapi dicuekin abis.
Pinot : Nggak lahh... lo akan tetep mendampingi gue.
Pismo : Gombal..
Pinot : Toh sampai hari ini gue masih ngetik blog ini dikeyboard lo kan? Saat nanti Mini datang, toh lo juga yang bakal gue bawa kesana kemari buat presentasi, kasih kuliah, nge-hotspot di Citos dan lain-lain.
Pismo : *tertunduk*
Sementara gue masih ngetik blog di Pismo gue yang murung, sambil lihat gambar-gambar Mac Mini dan berbisik dalam hati "Mac Mini, I think I'm in love with you. And God, please help me.."

Monday, February 07, 2005

Kuda poni Apple bernama Mac Mini

Ketika Mac Mini dilaunch pertama kali di MWSF Januari lalu - dan kemudian mejeng di website www.apple.com - yang paling menghipnotis adalah harganya yang cuma 3 digit - pun di bawah US$ 500 (US$ 499 tepatnya). Ajegile murah banget! Si Mini seperti memanggil-manggil "Buy Me Buy Me!" Jujur saja, gue langsung pengen beli karena kalap. Jika gue lagi tajir (dan barang sudah tersedia di tokonya Bibin atau Wasabi atau Oktagon) pasti langsung digondol pulang. Droll worthy!
Untungnya gue lagi kere. Dan hasrat untuk memilikinya mulai berkurang sedikit demi sedikit dari hari ke hari. Apalagi di website sudah banyak yang memberi review, dari sisi positif dan negatifnya. It's a cute machine that's for sure. Tapi, buat hardcore user kaya gue yang banyak berkutat di pekerjaan grafis dan animasi, sepertinya hanya akan membuat si Mini meleleh dan mabok.
Hal serupa pernah terjadi pada saat Apple meluncurkan iMac translucent-nya. Huaaaa... rasanya pengeeenn banget punya. Lalu muncul lagi iMac sunflower yang ginuk-ginuk. Lalu iMac G5. Namun keinginan tersebut selalu dihadang pada kebutuhan gue yang sebenarnya pada Macintosh "kuda arab" macam PowerBook atau PowerMac. Realistis saja, gue tidak butuh "kuda poni"-nya Apple. Gue tidak butuh Mac Mini! (walau teteup pengen punya.. huehehehe).
Sebenarnya ngapain sih Apple membuat keluarga "kuda poni" pada jajaran Macintosh mereka? Marketing strategy. Kalau dilihat apa yang ditulis Paul Nixon (www.nixlog.com/apple), Apple butuh produk yang memasyarakat (Huh! Sudah mulai realistis ya? It's about time!) dengan harga terjangkau. Diawali dengan mp3 player iPod kemudian Mac Mini. Well, it's not the computer for the rest of us (yang beberapa diantaranya butuh "kuda arab"). Mac Mini adalah bagian dari kampanye Switching-nya Apple. Diharapkan, PC users mulai ter-iPod-isasi. Lalu sedikit demi sedikit tergoda masuk dalam faham MacOS. Untuk itulah Mac Mini hadir. PC users diberi kesempatan untuk test drive' dunia MacOS tanpa harus mengeluarkan uang banyak. Just drag your Intel away and put Mac Mini with your current monitor, keyboard & mice. Kira-kira begitu.
Syukur alhamdulillah, sampai sekarang gue ngga akan tergoda dengan senyuman manis dan manja si kuda poni, Mac Mini. Dengan harga kira-kira 9 - 10 juta Mac Mini (+ PC monitor + PC keyboard + PC mouse + RAM 1 Gb), mending gue beli kuda arab PowerMac G4 macam QuickSilver 800 mHz dengan graphic card lebih baik, VRAM lebih tinggi dan RAM lebih tinggi. Bisa upgrade pula. Cukup realistis kan?

Sunday, December 05, 2004

Macinthos books in Kinokuniya Plaza Senayan


Cari buku Mac atau Apple memang susah. Tapi tidak di Kinokuniya Sogo Plaza Senayan. Tersedia rak khusus untuk buku-buku tentang Macinthos. Macinthos? Kayanya memang buku-buku ini khusus pengguna Mac dari Jawa yang masih medhok ngomongnya. Bukan Macintosh, tapi Macinthos. Kira-kira seperti ngomong plonthos.

Sunday, October 03, 2004

Nge-DJ pake PowerBook Pismo


Akhirnya nge-DJ pake amplifier gede. Bermodalkan TraktorDJ (www.nativeinstruments.de), PowerBook G3 dan USB Audio Out seharga 25.000. Massa bergoyang mengikuti irama lagu yang gue susun di Pismo gue. Eri, Razak, Ical, Edi growak jumpalitan gak karuan. Jay Subiyakto, Pandu Sunarya & Razak Satari sebagai tamu kehormatan (ini pesta perpisahan buat mereka) ngga ketinggalan ikut gunjrang-gunjrang sampe teras kayu villa si Luthi kecapean nahan beban. TraktorDJ rocks!!

Tuesday, August 24, 2004

Macintosh on duty


1 Powerbook Titanium, 2 Powerbook Aluminium, 1 Powerbook G3 Pismo, 1 G5 Desktop dikerahkan untuk ulang tahun RCTI yang ke 15 pas tanggal 24 Agustus 2004. Kecuali G5 Desktop, semuanya milik pribadi! Entah demi RCTI, entah demi gengsi pribadi. Yang penting Macintosh!!

Thursday, June 10, 2004

Macintosh Home Automation

Dalam rangka menjalankan masa purnabhakti Powerbook 1400cs, gue tugaskan beliau sebagai pengurus otomatisasi aplikasi listrik rumah. Setelah memesan modul-modul X10 (www.x10.com, www.smarthome.com), gue install Powerbook software XTension (www.shed.com) dan Thinking Home (http://www.alwaysthinking.com/products/thinkinghome-main.html).


Sekarang, sang PB 1400cs bisa membuat jadwal kapan lampu mati & nyala. Bahkan bisa buat nyalain lampu teras, lampu dapur & lampu ruang tamu.
Next project, beli motion detector, pasang QuickCam dan set AppleScript. Jadi kalau ada gerakan-gerakan mencurigakan di halaman, TV bisa tiba-tiba nyala walau gue ngga ada di rumah.

Sunday, February 22, 2004

Mac Junkyard


Looking for old Macintoshes? Want to bring your old Mac back alive? Try to visit DKI Komputer or contact Joni Alfaruk! Beralamat di Kali Baru Timur 1 no 234 Senen Jakarta Pusat, Joni yang membuka usaha publishing & setting-an ternyata dalam rumah mungilnya tersimpan harta karun Macintosh dari berbagai jaman. Color Classic? Ada. Powerbook Wallstreet? Ada. Modem Apple GeoPort? Ada. Sejauh mata memandang, Mac, Mac, Mac & Mac.

Dan tidak tertutup kemungkinan, bisa nemu barang-barang antik lainnya, yang Joni sendiri ngga sadar bahwa dia memilikinya. Gue berhasil dapat QuickCam color seharga Rp 100 ribu saja! It works well with my Powerbook 1400.
"Saya tadinya bantuin temen-temen di tempat setting buat benerin Macintosh-macintosh rusak. Iseng-iseng aja," kata Joni. "Sejak 1992, barang-barangnya ngumpul di sini. Ada yang 'ngendon' di sini. Ada yang dikanibal. Seneng aja ngumpulin barang-barang ini."
Just call him at 0214247106.

Saturday, February 07, 2004

3 Powerbook 1 iBook



Gue, Dita istri gue, Eman dan Unay bercengkerama di Mr. Bean cafe Cilandak Town Square. Seperti biasa, nge-HotSpot, mack! Dita dengan iBook SE G3-nya, Eman dengan Titanium G4-nya, gue dengan Powerbook G3-nya & Unay dengan Powerbook Aluminium G4-nya. Sempet bikin ngiler pengunjung di sana. Ada juga yang ngelirik penasaran, karena laptop windowsnya ngga bisa-bisa nyambung sama WiFi CBN sampai bolak balik buka manual booknya.


Pernah tahu rasanya kalau punya Harley Davidson ngumpul-ngumpul bareng sambil mejeng? Nha.. kira-kira rasanya sama. Cuma kalau ini lebih keliatan smart karena bawanya Powerbook. Huahahhaa...

Thursday, June 26, 2003

Steve Jobs bikin sepatu?


Si Dita - pacar gue - lagi jalan-jalan sama temennya di Parkir Timur Senayan cari CD bajakan buat referensi kerjaan. Malah nemu sepatu ber-merk JPG dengan logo Apple! Whoa! Logo Apple bikinan Rob Janov - Regis McKenna PR Agency art director - nemplok di produk non-Apple & non-komputer! Keinget sama gue sebagai pacarnya yang fanatik Apple langsung dibeli deh.



JPG - alias Jinpingguo - ternyata sepatu buatan Taiwan. Dan kalau melihat kardus dan label-tag di dalam kardus sebenarnya ini sepatu ngga ngasal bikinnya. Ada kertas bungkusnya lengkap dengan logo Apple plus silica-gel dengan logo Apple.
Barangkali si empunya perusahaan emang demen sama produk Apple. Atau emang sembarang nyomot logo Apple karena keliatan keren? Atau memang Rob Janov kerja di perusahaan sepatu tersebut? Atau memang Steve Jobs beli perusahaan sepatu di Taiwan buat ngobatin stress? Just wait until Apple responded by filling the copyright suit.

Thursday, May 01, 2003

Istri gue jadi model print ad iBook


Sore-sore di kamar gue, si Dita lagi ngetik dengan iBook clamshell nya. Matahari sudah ngga terlalu terang membuat kamar gue jadi rada temaram. Cahaya LCD dari iBook menerpa muka Dita dan tembok di belakangnya. Looks artistic to me, langsung sabet kamera digital. Whoa! Keren euy. Tinggal nunggu dipanggil agency Apple Chiat/Day untuk dihire jadi art director mereka. Yea.. I wish.