Tuesday, December 05, 2006

The Power(points) of KeyNote

Malas belajar. Itu yang membuat gue terlambat menggunakan Apple's KeyNote setiap melakukan presentasi. Selama bertahun-tahun gue setia (gulp) menggunakan Microsoft PowerPoint. Awal mulai sering presentasi adalah saat gue jadi dosen tamu di Bina Nusantara di tahun 2002. PowerPoint jadi andalan gue. Sebenarnya 'andalan' bukan kata yang tepat, tapi hanya karena belum nemu software presentasi yang cocok saat itu. Mungkin kata yang tepat adalah 'kepepet'.

Presentasi yang gue lakukan bukan sekedar 'info delivery' tapi lebih bersifat 'persuasion'. Dan gue menggunakan file video karena seusai dengan bidang gue : komunikasi visual, audio visual, animasi & motion graphic. Pada saat dealing dengan file video, PowerPoint terasa clunky. Contohnya, file video selalu pada layer paling atas, sehingga tidak bisa gue gunakan sebagai latar belakang. Juga tidak ada transisi keluar masuk pada elemen file video.

Akhirnya gue memaksakan diri untuk mencoba ngoprek KeyNote setelah ada undangan jadi 'tukang cuap-cuap' di sebuah sesi diskusi pada acara Konfiden beberapa waktu lalu. Wah! Gue yang tadinya cuma sekedar import file PowerPoint dan merapikan ala kadarnya, jadinya malah ketagihan eksperimen sampai subuh. Gue bisa menggunakan background animasi full screen! Dan transisi keluar masuk kalimat berjalan mulus tumpang tindih dengan materi video di layer belakangnya. Feature kosmetiknya seperti pengaturan Opacity & Drop Shadow benar-benar memikat. Apalagi themes-themes KeyNote sangat kreatif, beda dengan themes PowerPoint yang sangat 'kantoran'. Dalam hati gue, "Ni die ni, software presentasi yang gue bang-get!"

Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting
Animasi/video bisa menjadi background template tanpa mengganggu transisi teks (click to enlarge)

Seterlambat-lambatnya gue pakai KeyNote, masih untung pada saat gue dipercaya untuk 'cuap-cuap' pada acara Training id-Mac di iBox tanggal 2 Desember 2006 kemarin, gue sudah cukup mahir menggunakan KeyNote. Jadi, ngga malu-maluin banget lah. :D

Jadi ngga sabar mau pakai KeyNote 3.

Friday, December 01, 2006

x86 Switcher

Martino dan x86-nya. Lampu biru di jeroan CPU-nya ngga nahan, Tin.




Fenomena Windows user yang switch ke Mac sudah biasa dan umum. Tapi di kantor gue ada fenomena lain lagi yang bertujuan nge-switch Mac user. Bukan membuat orang switch ke Windows, tapi switch ke x86 platform. Apa tuh istilahnya? Switch the switcher? Switch Mac User to 'Mac' (with quotes)? Switch Mac User to Crippled Mac? *muahahahahahahaha*

Oknumnya adalah Martino dan Yoswar. Mereka terus mempertanyakan kepada para Mac User : "Dengan duit 10 juta, lo lebih milih beli iMac intel atau platform x86?" Propaganda ini cukup membuat beberapa Mac User bergeming, terutama bagi yang lagi butuh Mac baru tapi dompet isinya cuma bon utang. Beberapa orang (termasuk gue) terus terang saja cukup tergoda. Apalagi lagi musim-musimnya harga Mac yang cepet turun. Salah satunya adalah teman kantor gue juga yang baru beli iMac intel - belum sebulan sudah muncul iMac Core 2 Duo dengan harga tidak berselisih jauh. "Tau gitu mending gue ke mangdu beli platform x86 dan customized" rintih salah seorang teman.

Yes it's relatively cheap. It's custom-able. Tapi hati gue masih belum sepenuhnya ingin langsung menggantikan QuickSilver G4 gue. Gue lagi ngga ingin terlalu 'ngoprek'. Namanya juga 'crippled', pasti ada satu titik masalah kompatibilas hardware. Apalagi si Martino nemu kasus - yang saat ini - belum terselesaikan : x86-nya setiap bangun dari Sleep-nya langsung minta restart. *muahahahahahahaha*

Let's face it, Martino. Seperti yang kita obrolin di kantin, kalian semua para peng-oprek x86 sedang dimanfaatkan Apple. Daripada mereka (baca : Apple) bikin divisi khusus untuk melakukan observasi & eksperimen, mending diserahkan saja hasilnya pada kalian. Soon, begitu terlihat hasilnya - bahwa OS X bisa sepenuhnya jalan sempurna di non-Apple hardware - Apple akan langsung memutuskan membeli right hasil oprekan kalian dan menyatakan bahwa kegiatan ngoprek x86 adalah ilegal.
*muahahahahahahahaha*

Kantin yuuukkk...

Keluarga ng-Gadget


3 anggota keluarga melakukan kegiatan dengan gadget-nya masing-masing (yang satu masih bayi 2 bulan cuma bisa bobok di dalam gendongan ibunya) : Dita sibuk browsing wi-fi di foodcourt PIM 2 dengan PowerBook G4 12", Arwen (2 tahun) sibuk nonton video kartun di Sony Clie UX50 dan gue sibuk mendokumentasikan mereka dengan kamera Nikon P1.


Salah seorang pengunjung bertanya ke gue, "Apple apa tuh kecil banget, mas?" sambil nunjuk ke Sony Clie yang ditempelin stiker Apple. Sambil mesem-mesem gue bilang, "Oh itu 'baby PowerBook' buat hiburan anak saya."

Sunday, October 29, 2006

Alive and Kickin' and Shufflin'

iPod Shuffle gue kembali hidup setelah 7 bulan mati suri. Thanks to little utility from Apple called iPod Shuffle Reset Utility.


Seperti iPod Shuffle-ers sial lainnya, iPod gue 'tewas' dengan symptom lampu kedip-kedip oranye & hijau. Tidak muncul di desktop, tidak muncul di iTunes dan lebih parah : tidak bisa direstore dengan iPod updater. Bahkan sudah dicoba dengan diformat ulang menggunakan software flash memory utility di Windows, tetap iPod Shuffle gue koma tidak bernafas.

A little bit late for Apple. Padahal kasus ini sudah muncul di forum-forum di web sejak tahun lalu. Entah apa yang membuat Apple akhirnya bermurah hati menciptakan utility ini. Yang jelas, ini membuat para iPod Shuffle-ers di dunia - termasuk gue - menari-nari jejingkrakan kegirangan.

Friday, October 20, 2006

Mainan Baru



Clie PEG UX50 ini sebenarnya ngga bisa dibilang mainan baru, karena produk ini dilahirkan tahun 2003 silam. Tapi memang dari dulu sudah ngebet pengen punya (harga baru sekitar Rp 6 jutaan) begitu ada yang mau jual second, langsung disabet. Di jaman itu, sebuah PDA dengan feature WiFi, BlueTooth, camera (photo & video), memory card adalah PDA mewah dan canggih. Kecanggihannya pun masih terasa hingga kini, saat PDA PalmOS sendiri belum ada perkembangan berarti.

Hal pertama yang dilakukan adalah menciptakan hubungan yang harmonis dengan Mac gue, dari segi koneksi WiFi, BlueTooth, sinkronisasi dengan iSync (menggunakan MissingSync). Internet sharing pun berjalan mulus - walau agak terbata-bata - melakukan browsing dengan aplikasi NetFront dan cek imel dengan aplikasi ClieMail.

Setelah itu, menciptakan hubungan harmonis, sexy dan mesra dengan bentuk foto : Si Clie bersanding dengan PowerBook G4. Hasil foto session bisa dilihat di sini :
http://flickr.com/photos/pinodita/sets/72157594333947783/

Thursday, October 12, 2006

Earphone iPod 30.000 perak



Ketemu lagi pernik iPod murah meriah, earphone putih iPod seharga Rp 30.000. Packagingnya terdiri dari 3 warna : hijau, hitam, biru. Walau packaging depan bergambar iPod Shuffle, tapi di belakang tertera teks : for iPod nano dengan sebuah gambar iPod nano putih. Pada packaging tertera logo Apple dan teks iPod dengan finishing cetak glitter. Dooh.. mendadak dangdut bang-get gitu loh.



Lumayan murah meriah. Secara bentuk, persis dengan orisinalnya, tapi soal suara cempreng abis! Bikin kuping sakit dan mendengung. Jack-nya sendiri secara keseluruhan menggunakan materi metal (aluminium?), bukan terbungkus plastik putih seperti orisinalnya.

Earphone ini mungkin bisa jadi solusi jitu, jika kebetulan kita menghilangkan atau merusakkan earphone iPod punya teman. Lumayaaann.. dari pada ganti yang orisinal seharga 200 - 300 ribuan. *evil laugh*

Lokasi : toko elektronik Progress, Bintaro Plaza (12 Oktober 2006)

Saturday, October 07, 2006

Memperkosa Neng Sekretaris

Dulu waktu pertama punya iBook clamshell, gue berhasrat banget pengen bongkar. Penasaran pengen tahu seperti apa isi perutnya, gimana penataan komponen di dalamnya & terutama pengen tahu step by step gimana cara ganti hard disk. Ternyata, setelah mendapatkan berbagai info di web seperti http://www.ifixit.com/Guide/Mac/iBook-G3-Clamshell/ , sangat amat ribet dan susah untuk membongkarnya. Untuk copot harddisk saja harus mencopot dulu modul LCD monitornya. Gue nyerah dan mengurungkan niat. Males aja gitcu.

Photobucket - Video and Image Hosting

Baru-baru ini si Acho minta tolong gue, OS 9 di clamshellnya ngadat. Clamshell yang sebelumnya dipakai oleh sekretarisnya itu, terpaksa harus dicopot HD nya - sudah tidak mungkin repair via CD/DVD karena ada masalah di driver CD/DVD traynya. Ini dia kesempatan memperkosa si clamshell alias Neng Sekretaris! I'm no official technical expert bersertifikat berijazah dari Apple. Gue cuma awam biasa yang penasaran pengen coba-coba.

Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting
Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting

Gue membagi tahap-tahap besar pembedahan dalam proses pengangkatan HD si neng sekretaris, yaitu :
1. Casing atas yang terdiri dari 5 sekrup Torx bintang 6
2. Shield aluminium tempat airport & sekitarnya.
3. CD Drive
4. Modul modem
5. LCD display (toughtest part!)
6. Shield aluminium yang menutup harddisk, prosesor & motherboard
7. Akhirnya, harddisk.

Total ada sekitar 26 sekrup. Wuih, bener-bener nih neng Sekretaris. Hingga postingan ini dipublish, gue masih belum mengembalikan bagian-bagian tubuhnya menjadi utuh kembali. Karena gue baru nyadar, bagian terberat bukan saat 'memperkosa'nya (membongkar), tapi justru saat 'mempertanggung jawabkan perbuatan' alias mengembalikan ke bentuk asal. Huahahahahah. Dasar tangan gratilan, kata bini gue :D

Related linkz :
http://www.sterpin.net/uk/dossiersuk.htm

Wednesday, October 04, 2006

Blogging dari Clie

Seems norak, tapi cihuy! Gue bisa blogging dari Clie pakai WiFi! Maksudnya, bukan di cafe berwifi tapi di kamar kerja sempit gue di rumah. Pakai Internet Sharing dari QuickSilver G4. Software blog-nya pakai Vagablog.

Thursday, September 28, 2006

Say It with Apple Style

Temen-temen kantor gue lagi demen bikin kaos "protes" tentang situasi & kondisi kerja kantor yang tidak menentu. Kadang deadline berubah, kadang sudah direncanakan tahu-tahu ngga jadi, kadang bener kadang salah. Yha pokoke setipe lah rata-rata situasi kerja dimana pun anda berada.



Dari beberapa desain kaos, gue mencoba bikin dengan cara Apple : style nya, campaign nya, grafis nya. Salah satunya seperti yang ada di sini : (Work)Life is Random. Mengambil identitas visual & kampanye iklan iPod Shuffle : Life is Random, kayaknya cocok sama kondisi kerja seperti yang gue sebut di atas. Di bawahnya nama produk nya diplesetin jadi : iWork Shuffle (aslinya iPod Shuffle).



Desain lainnya adalah kaos dengan kata-kata : "I'd rather be in Infinite Loop, Cupertino, California" dengan logo rainbow Apple. Kesannya sudah bosen dengan tempat kerja yang sekarang, mending ngacir kerja di Apple. Wakakaka.. padahal mah kayak keluar dari mulut harimau masuk pantat buaya.

Sejauh ini, komen dari karyawan lain cukup positif dan merasa jiwa mereka terwakili dengan message di kaos tersebut. Dampaknya, kaos yang tadinya dibuat terbatas (cuma 5 kaos) akhirnya jadi mass production. Ngga pa pa deh, yang penting semua karyawan bisa curhat dengan gaya Apple.

Sunday, September 10, 2006

MacLighter


Ngga tahan bikin komik sarkas gara-gara berita tentang MacBook 'terbakar' seperti di sini :
http://www.gizmodo.com/gadgets/laptops/macbook-joins-the-club-of-igniting-laptops-199368.php

Diiringi lantunan suara Jim Morrison, "Come on baby light my fire... try to set the night on fire... yeaahh.."

Tuesday, August 29, 2006

Behind the Screen RCTI 17



Seperti sebelum-sebelumnya, Mac selalu hadir dibelakang layar acara RCTI, terutama saat HUT RCTI seperti yang pernah gue posting di blog ini. Kali ini 7 Mac dikerahkan saat acara ulang tahun RCTI ke 17 kemarin di Istora. 5 PowerBook sebagai suplai grafik (VJ) untuk LED screen di panggung & 2 desktop (iMac & G5) sebagai 'server' dan membuat materi grafis. Software VJ-nya pakai Arkaos VJ - cara kerjanya dengan assign masing-masing key di keyboard dengan file-file QuickTime yang berukuran 320 pixel x 240 pixel dengan codec MPEG4. Jadi, saat kita tekan huruf "Q" misalnya, maka file movie-nya akan muncul di layar, tekan huruf "W" muncul file movie lainnya, demikian seterusnya. Sehingga pada saat performance, grafik di LED screen akan berubah-ubah sesuai kebutuhan lagu (tempo, beat, lyric dll).

Btw, dari 7 Mac tersebut 4 diantaranya milik pribadi : 3 PowerBook dan 1 iMac baru punya Eman. Secara tampilan di TV atraksi grafis dari PowerBook tersebut tidak terlalu tercover kamera dengan baik, sehingga hanya bisa terasa hebohnya oleh penonton di Istora (digabung dengan permainan tata lampu yang bersinergi dengan warna & tampilan grafis).



Emang kayanya kalo kerja beginian pake Mac kerasa lebih 'sreg'. Istilah kate : Working with Style :DDD

Sunday, August 06, 2006

Sampah Barang-barang Apple & Mac


(click to enlarge)

Akibat gue ngoprek-ngoprek kardus di gudang cari stiker logo sixcolors Apple gue, maka berjumpalah gue dengan berbagai 'sampah' koleksi barang-barang berbau Apple & Mac yang gue kumpulin bertahun-tahun. Dari tumpukan barang-barang tersebut, gue kumpulin yang terfavorit seperti terlihat di foto atas. Gue coba jelaskan satu persatu tentang sampah-sampah tersebut :



  1. Majalah BusinessWeek terbitan yang membahas debut iPod mini - Februari 2004

  2. Majalah Fortune yang membahas kepiawaian Steve Jobs menyelamatkan Apple dari jurang keterpurukan dengan strategi baru : MacOS X - Januari 2000

  3. Majalah BusinessWeek dengan cover story tentang Apple yang lagi terpuruk & sekarat - Februari 1996

  4. Map produk Apple dari Singapura saat launching G4, Titanium & iMac baru di tahun 2001

  5. Majalah Fortune yang membahas kesehatan perusahaan Apple dan peluncuran MacOS Tiger - Februari 2005 "Our DNA Hasn't Changed"

  6. Brosur peluncuran MacOS 8.5 - Remember the famous Sherlock?

  7. Macintosh Buyer's Guide 1985 (sampah tertua!) - Gue sudah kadung ngefans dengan Macintosh gara-gara sodara gue pulang dari Amrik bawak Mac 512k di tahun 1985. Karena tahu ngga bakal bisa beliin Mac yang sama, bokap gue pas pulang dari Jepun bawa oleh-oleh 'Mac Buyer's Guide' yang dibeli di Rubino Bandara Soekarno-Hatta.

  8. Apple Guide to Desktop Publishing - Summer 1989 - awal-awal kelahiran DTP di akhir 80-an dengan software-software jawara : MacPaint, PixelPaint, Studio/8, SuperPaint, Aldus Freehand, Adobe Illustrator 88, MacDraw, Canvas, PageMaker, QuarkXPress, ReadySetGo, Aldus Persuasion, MM Director, HyperCard etc. Dari beberapa software tersebut, mana yang sudah almarhum ya?

  9. Brosur produk MacClassic, MacSE/30, MacPortable, Mac LC, Mac II si, Mac II ci, Mac II fx (nyomot di jl. Dayang Sumbi, Bandung tahun 1990 :D) - tercanggih saat itu adalah Mac IIfx dengan spec dasyat : clock speed 40 mHz, RAM 4 mb expandable to 32 mb, 6 NuBus slots, HD 80 mb/160 mb, Processor Direct Slot. Cuma kaum borjuis saja yang mampu beli saat itu : US$ 9,800. Wakakakakakak.. the latest QuadCore G5 aja ngga sampe segitu harganya.

  10. Apple Product Guide - Agustus 1995

  11. Brosur PowerBook 170 - specs : 25 mHz, RAM 4 mb (expandable to 8 mb), HD 40 mb, 10 inch LCD Display (black & white!)

  12. Brosur PowerBook Titanium G4 - ultrafast ultrathin ultralight


Ini belum termasuk koleksi majalah-majalah tua berdebu MacWorld, MacUser, MacWeek & MacAddict. Dita, istri gue, sudah memberikan wacana untuk dikiloin saja dari pada menuh-menuhin gudang. Tapi gue bilang, 10 - 20 tahun lagi siapa tahu bisa jadi kolektor item. Lumayan buat biaya kuliah anak gue si Arwen... wakakakakakakak

Dan.. btw.. gue masih belum nemu juga tuh stiker gue tahuh mana :P

Sunday, June 04, 2006

Apple (unofficial) Merchandising

Thanks to iPod, Apple kini makin ngetop. iPod sendiri saking ngetopnya sampai terjadi evolusi brand dari nama produk menjadi nama jenis barang (lihat di tulisan gue sebelumnya). Kini logo Apple gampang ditemukan di berbagai bentuk merchandising di Indonesia. Logo Apple terpampang di topi, kaos, tas, badge dan pernik-pernik lainnya yang tentu saja bukan official merchandising items. Beberapa waktu lalu, gue sempet lihat di toko pernak pernik dan terpampang topi caps dengan logo Apple (sayang gue ngga bawa kamera) berdampingan dengan logo-logo produk lain yang sudah lebih dulu ngetop seperti Reebook, Nike, BMW, Porsche dan lainnya.



Kemarin, teman gue baru pulang belanja di Taman Puring bawa oleh-oleh berupa pernik berlogo Apple. Pernik seharga 10.000 perak ini berfungsi sebagai gantungan ID card. Desainnya sendiri cukup rapi dan ngga terlalu norak. Logo Apple terdesain cukup simple, mengingatkan pada sepatu Apple gue :D

Hayo siapa lagi yang bisa nemuin barang-barang Apple yang tidak resmi?

Thursday, April 27, 2006

Odol = MP3 Player

Produk MP3 player 'kacangan' dimirip-miripin dengan iPod sudah biasa. Setelah kasus Luxpro yang membuat kembaran iPod shuffle, kini makin menjamur kembaran-kembaran atau imitasi iPod. Appearance nya bisa bikin orang keliru beli kalau kebetulan lagi mabok minum Topi Miring atau tripping. Seperti yang direport Daniel Cheng dari Taipei Times, lingkaran dial khas iPod secara sekilas menunjukkan identitas produk iPod asli bikinan Apple. Dan mereknya pun Nano.

Lain lagi dengan apa yang gue lihat hari ini di Glodok Elektronik, arteri Pondok Indah. Sejalan dengan apa yang diposting Wicak (link) & Nanda (link) di milis id-apple beberapa waktu lalu, gue melihat produk MP3 player yang tidak mirip dengan penampilan iPod tapi menggunakan brand iPod seperti di bawah ini. Tentu saja ada yang mirip iPod (warna putih seperti iPod Nano) dengan brand iPod.

Photobucket - Video and Image Hosting

Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting

Whoa, terjadi pelanggaran hukum tentang merek dagang! Biar laku, produknya dikasih nama iPod!
Atau.... malah terjadi pergeseran brand atau merek dagang ke nama jenis produk. iPod bukan merek dagang, bung! iPod adalah jenis MP3 music player!

Saat beli MP3 Player di sebuah toko, sebut saja iPod, maka akan banyak pilihan dari berbagai merek Samsung, Creative atau iPod itu sendiri. Hal ini persis dengan bentuk ketersesatan kaprah lain seperti Aqua untuk air mineral & Odol untuk pasta gigi. Sebelumnya sempat baca di sebuah artikel di web, Delon diwawancara reporter tentang iPod - seperti yang gue kutip sebelum artikel ini diperbaiki (artikelnya sendiri memang sudah diperbaiki, tapi Comment pembacanya masih ada) :

Dari empat Ipod yang dimiliki Dellon ternyata Sony semua loh!, dari yang 4GB sampai yang 40GB. "Bukannya mau pamer kalau maniak Sony, tapi kebetulan empat Ipod aku itu semuanya dikasih orang," ujar Dellon malu-malu saat ditemui di Hotel Ritz Carlton beberapa waktu yang lalu.
(btw, seharusnya Delon, bukan Dellon ;))

Wajar saja, iPod juga sudah menjadi icon. Evolusi sebuah brand bisa saja terjadi dan bergeser menjadi istilah umum - walau salah kaprah berat. Seperti yang disebutkan Arnold Siboro di milis id-mac beberapa waktu lalu, orang menyebut Walkman untuk semua Portable Cassette Player, padahal Walkman adalah brand milik Sony.

Sah sah saja. Namanya juga manusia. Biarian saja yang pusing (atau malah happy) pak de Steve Jobs dan baladewa-nya di Infinite Loop sana.

Salah kaprah toh sudah bagian dari pergaulan kita. Kalau perlu, kita bikin istilah salah kaprah baru saja biar makin ramai, makin ngawur dan makin kesasar. MP3 Player
kita ganti istilahnya saja, bukan iPod, bukan Walkman, bukan Aqua... tapi Odol!
Lho kok pasta gigi? Yha biar saja.. salah kaprah kok nanggung.

Hidup Odol!!!

Friday, March 10, 2006

Kisah Klasik : Mac vs PC


Saya mau cerita tentang situasi terkini kantor saya (sekali-sekali boleh dong katarsis). Agar saya tidak dooced dan dipecat (semoga), saya tidak akan sebutkan perusahaan tempat saya bekerja.

Beberapa teman-teman desainer grafis di tempat saya bekerja resah. Ada wacana dari pihak manajemen untuk menggantikan platform Mac yang selama ini kami gunakan dengan PC (Windows). Salah satu pertimbangannya adalah : PC sudah menjadi platform standar di semua perusahaan sejenis tempat saya bekerja. Pertimbangan lainnya adalah agar tidak lagi terjadi kesimpang-siuran standar teknis peralatan, sehingga memudahkan untuk sentralisasi perawatan dan perencanaan upgrade peralatan di masa mendatang. Atas nama efisiensi (secara umum), jelas pertimbangan ini masuk akal.

Namun apakah efisiensi ini berlaku bagi desainer grafis yang sangat bergantung pada penguasaan alat tertentu, dalam hal ini Mac? Analoginya, seorang pelukis cat minyak yang sangat bergantung pada kualitas kuas & cat minyak Windsor & Newton diharuskan bekerja menggunakan sebuah pensil Staedler. Tentu saja kreativitas seseorang tidak akan bisa dibatasi oleh keterbatasan tools tertentu dalam menuangkan ekspresi karyanya, namun bukan itu inti permasalahannya. Permasalahannya adalah jika sebuah perusahaan memperkerjakan seorang pelukis, maka sudah seharusnya dipekerjakan sesuai dengan spesialisasi dan kekuatan skill-nya.

Dari analogi tersebut, ada pertimbangan teknis dan non-teknis yang membuat saya & beberapa teman-teman desainer grafis merasa cocok dengan Mac.
Pertimbangan teknis bisa terjabarkan secara rasional, beberapa diantaranya :
- Software Motion & FinalCut Pro (sudah menjadi 'gacoan' kami)
- Harmonisasi kerja antar software grafis (terjaganya kualitas elemen warna, font, image dll)
- Maintenance OS yang sangat mudah (maklum, kami bukan teknisi)
- dan tentu saja, sejauh pengalaman kami MacOS X sangat amat jarang bermasalah - sangat stabil walau software rakus memory jalan bersamaan (rendering 3D sambil touch-up image & preview QuickTime dengan alpha key!). It's the most stable OS in the world! Silakan baca PC Magazine & PC World. (hey.. it's PC magazine! *wink!*)
Pertimbangan non teknis, sayangnya tidak bisa terjabarkan secara rasional. Karena menyangkut kebiasaan, kepekaan rasa, ekspresi jiwa, kreativitas, easy-to-use, fun (Hei! Kerja kok fun??!!) dan seabreg alasan yang tidak compatible dengan nalar manajemen perusahaan tempat kami bekerja. Sebuah pertimbangan yang hanya bisa dijelaskan secara analogi seperti di atas.

Ya, banyak PC graphic designer out there, namun Mac adalah tools yang paling tepat bagi kami untuk berkreasi, berkarya dan memberikan yang terbaik bagi perusahaan yang - alhamdulillah - kualitas kerja kami juga tidak perlu dipertanyakan lagi. Ironisnya, sebagai kaum yang 'berbeda' di perusahaan, kebutuhan kami untuk melakukan kewajiban, tanggung jawab & tugas secara optimal tampaknya terabaikan. Apalagi dengan kondisi musim kemarau kreativitas yang sedang melanda perusahaan tempat kami bekerja.

"A tool can be used many ways. A metal sculptor can make a beautiful piece of art, an idiot can smash something with it. It's the user who decides. This is our whole companies way of doing business not just the IT department."

Useful links :
http://www.macintouch.com/macjust.html
http://www.marrathon.com/whymac.html
http://www.macgalaxy.com/pages/info/info_why_mac.html

Friday, January 06, 2006

What's playing in Arwen's iPod?

Image hosted by Photobucket.com

Walau masih piyik, Arwen sudah mulai bisa menikmati musik favorit yang dimainkan di iPod nano-nya. Dengan bantuan pilihan bapak & ibunya, Arwen akur kalau sudah musik-musik soundtrack orchestra yang dimainkan. Juga penyanyi Diana Krall, Norah Jones, Dido atau Sade selalu hadir menemani saat menjelang tidur.

Sekarang musik favorit Arwen bisa dilihat di bagian "My iPod These Days" di blog ini. Melalui www.last.fm, musik yang sedang dinyalakan bisa langsung ter-update di blog ini. Saat ini favoritnya Norah Jones, Randy Edelman (soundtrack Kindergarten Cop), Sting (soundtrack Sabrina), Harry Gregson-Willieams (soundtrack Chronicle of Narnia), David Benoit & Diana Krall. Untuk melihat musik yang sedang main di rumah kami, klik di sini.

Saturday, April 30, 2005

iBabyBrain

Artefacts from the Future

Image hosted by Photobucket.com

iBabyBrain ini adalah alat untuk men-setup perkembangan otak bayi yang berusia dari 0 - 3 tahun. Anda tinggal mengatur seluruh rencana perkembangan dan pertumbuhan bayi di Macintosh anda. Setelah selesai direncanakan, anda harus membuat simulasi-nya terlebih dahulu di komputer, sehingga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dapat dideteksi secara dini. Komputer otomatis akan memberi tahu kepada anda bahwa data aman dan siap untuk didownload ke otak bayi anda melalui modul iBabyBrain melalui kabel Ultra FireWire 100G.

Image hosted by Photobucket.com
(click for larger image)
Selain mengatur perkembangan otak, iBabyBrain juga bisa mem-backup seluruh memory otak anda, sehingga jika terjadi kerusakan pada otak bisa di-restore lagi seperti sedia kala tergantung pada file data yang disimpan. Software ini juga dilengkapi dengan feature schedule yang otomatis akan mem-backup memory otak dalam interval waktu yang diinginkan.
Feature yang tidak kalah menariknya adalah BrainWash, yang menghapus seluruh memory otak bayi anda jika memang ternyata perkembangannya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Dengan BrainWash, perkembangan otak nya bisa dimodifikasi lagi sesuai dengan umur bayi tanpa harus memulai lagi dari awal.
Spec & requirement :
- Macintosh G20 minimum 1,5 petahertz dengan port Ultra FireWire 100G
- MacOS 20th or better
*Karena peralatan ini berhubungan langsung dengan keselamatan jiwa maka Macintosh dipilih sebagai platform utama dengan alasan stabilitas hardware & software yang sudah terjaga selama bertahun-tahun.
catatan : pada saat snapshot ini dibuat, interface Mac-nya sedang menggunakan theme Aqua Classic pada software ShapeShifter versi 35/2015

Sunday, April 24, 2005

US$ 500 Mac in 1996

Artefacts from the Past

Lagi ngoprek majalah bekas gue di rumah ortu, nemu majalah MacUser terbitan April 1996 yang mengulas sebuah prototype produk Apple/Mac seharga 500 dollar AS. Gile jaman itu rupiah masih berkisar 2000-an per 1 dollar, yang berarti harganya sekitar 1 jutaan rupiah per unit.

Image hosted by Photobucket.com
Buat Mac user karatan pasti sudah tahu lah yang dimaksud produk apaan. Tahun itu, Apple kerja sama dengan Bandai mau bikin game-playing machine (game console), plus dengan fungsi internet-surfing machine dengan nama Pippin. Kira-kira fungsinya sebagai home entertainment. Pippin jalan menggunakan scaled-down Mac system software dengan prosesor 66 Mhz PowerPC 603 dan RAM 6 mb.
Sayangnya, positioning Pippin ngga jelas (cheap Macintosh, expensive game console), ngga punya kemampuan 3D graphic rendering seperti layaknya game console, ngga ada hard disk dan tidak adanya dukungan developer saat itu (developer menganggap Pippin sebagai 'unproven platform'), membuat Pippin 'tewas' dengan waktu yang singkat.

Tampaknya memang sudah sejak dulu Apple berusaha mati-matian membuat produk dengan harga murah. Jaman itu, Apple memproduksi berbagai macam 'low-cost' Mac seperti LC, Centris, Performa termasuk proyek Pippin tapi justru membuat Apple makin sekarat. 8 tahun kemudian setelah Pippin 'US$ 500', Apple baru nemu cara yang tepat untuk memproduksi dan menjual komputer murah saat Mac Mini lahir dengan harga US$ 499. Ternyata, ngga gampang bikin komputer murah :P .. d'oh!

Btw, iseng gue scan artikel majalahnya (sori ngga sempet nge-OCR-in dan nge-PDF-in). Selamat membaca.
Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com
Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com
More about Pippin :
http://www.macgeek.org/museum/pippin/

Friday, April 01, 2005

Rame-rame jualan iPod

Image hosted by Photobucket.com
Satu lagi hadir toko jual produk Apple di Jakarta. Kali ini di Plaza Senayan, selantai dengan Kinokuniya book store. Buset, kayanya lagi musim pada jualan Apple. Mengingatkan gue pada jaman dahulu (era awal 90-an), betapa ngamprah toko jual produk Apple dan Macintosh. Dulu toko-toko tersebut berkesan eksklusif dan mahal (maklum yang dijual barang-barang Apple yang berlabel komputer mahal kelas atas). Gara-gara popularitas iPod yang meroket, kini hampir semua toko gadget jual iPod. Lihat saja ke Ratu Plaza, betapa ngamprah berjejer terpajang iPod di hampir semua etalase toko. Ada yang sambilan menjajakan iPod, ada pula yang jual iPod plus produk-produk Apple lainnya seperti Mac Mini.
Pada rame-rame jualan iPod (plus produk Apple) di Indonesia menurut gue hanya salah satu dari fenomena ledakan bisnis semata. Apalagi hanya triggered by trend, mode & fashion, dan tentu saja pergaulan. Maaf jika gue agak skeptis dalam hal ini. Sering banget gue temui para penjual produk tersebut ngga dilengkapi dengan product knowledge yang memadai, seperti yang pernah gue alami di sebuah toko di Pondok Indah Mall. Pun calon pembeli yang ikut ketularan demam iPod, datang membeli sambil mengatas-namakan 'demi pergaulan'.
Sampai kapan popularitas iPod ini berlangsung di Indonesia? Sama ngga sih karakter pembeli/peminat iPod Indonesia dengan orang-orang di Amrik atau Eropa misalnya?
Jika memang orang-orang kita hanya sekedar ngikut-ngikut, bisa jadi strategi Apple untuk menggiring orang supaya switch dari Windows ke Macintosh ngga jalan sempurna. Seperti yang kita ketahui, skenario Apple adalah : iPod 4G -> iPod mini -> iPod shuffle -> Mac Mini - eMac - iMac (iBook) - PowerMac (PowerBook). Seharusnya hal ini menjadi tugas para penjual, tugas untuk EVANGELIZE PEOPLE. Agar para pembeli/peminat iPod bisa melek Apple secara umum, ngga sekedar ngikutin trend semata yang umurnya pendek.
Bagaimana pun, menjual produk Apple tidak sama dengan menjual barang komputer atau elektronik biasa.