Sering tercetus pertanyaan dari pengguna PC/Windows saat mereka sedang mempertimbangkan untuk switch ke Mac : berapa lama umur penggunaan platform ini? Buat yang sudah lama menjalin hubungan dengan Mac, jawabannya akan terpola : lama, lebih lama daripada pakai PC/Windows. Bisa 4 tahun, 8 tahun atau bahkan ada yang masih 'menggunakan' MacPlus atau Mac SE buatan akhir '90 an. Konsekuensinya bekerja menjadi lebih lambat dan mengabaikan banyak feature terbaru dari software.
Bagi beberapa orang hal tersebut tidak menjadi masalah besar, termasuk gue dan kebetulan bokap gue sendiri. Melakukan pekerjaan reguler bikin cartoon strip Panji Koming (untuk harian Kompas) kini bokap dibantu dengan PowerMac G3 Blue & White buatan tahun 1998. Dari sejak diterimanya G3 ini di tahun 1999, bokap jadi semakin terpacu untuk melengkapi kemampuan hand-drawing-nya dengan fasilitas artistik yang diberikan oleh teknologi. Walau sempat coba-coba software terbaru - OS X, FinalCut Pro, AfterEffect di G4-nya, G3 ini tetap menjadi tool utamanya : kuas dan kanvas canggih.
Old G3 Great G3
Penggunaan sebuah komputer bagi beberapa orang tidak selalu mempertimbangkan kecanggihan atau selalu meng-update perkembangan teknologinya, tapi juga kenyamanan. Kenyamanan user-nya inilah yang membuat lifetime komputer sebagai alat kerja jadi relatif panjang, baik itu Mac atau PC & Windowsnya sekalipun. Hanya saja, gue dan bokap kebetulan merasa lebih nyaman untuk menggunakan Mac-nya selama mungkin. Semakin tua, semakin dirawat dan disayang. It's not just a tool, it's a great tool.
Hari ini gue dapat email dari seseorang NikePlus-ers yang mengajak gue untuk mengikuti 'lomba lari' 100 miles se-Asia di NikePlus.com. Dan sudah ada 8 kontestan yang mengikuti lomba ala NikePlus ini.
Gue baru saja bikin lomba bareng teman gue si Rico (dengan target lari 10 km dalam waktu seminggu) dan ini pun juga sekedar iseng belaka. Manusia-manusia seperti gue dan Rico sudah terlalu hypernurbs alias hypertambun untuk bisa berdedikasi penuh melakukan olahraga, apalagi lari pagi. Pakai sensor NikePlus juga sekedar motivator untuk menghancurkan tembok 'kemalasan'. Lha ini tiba-tiba 'ditantang' untuk lomba se-Asia. wakakakakakakak...
Coba aja kali yee... Hitung-hitung buat tambahan motivasi untuk selalu rajin berlari.
Bagi para Nikeplus-ers yang malas menunggu proses loading website nikeplus.com, ini ada website alternatif, Runometer.com yang lebih praktis untuk mengumpulkan semua running report data dari iPod nano dan dipublikasikan di internet (lewat blog). Anda harus meng-upload XML data dari iPod nano, melalui tahap-tahap yang dijelaskan di website ini.
Gue pernah punya kasus dengan colokan yoyo adaptor punya PowerBook G3 Pismo gue. Terutama pada bagian sambungan adapter plug-nya (ujung yang 'nyolok' ke power PowerBook/iBook). Sambungannya sedemikian ringkih sehingga mudah putus karena terpelintir. Apalagi sudah memasuki tahun 2007, umur adaptor tersebut jadi makin renta dan gampang sakit-sakitan.
Tahun 2004 lalu gue pernah posting iseng-iseng dalam bentuk PDF : cara ngakalin sambungan adapter plug yang putus. Bagi yang membutuhkan bisa download file PDF nya di sini : http://homepage.mac.com/pinot/FileSharing1.html
Gue yang pemalas ini akhirnya bisa makin giat bangun pagi & berolahraga. Tujuan utamanya tentu saja biar sehat, namun tujuan utama yang kedua (maksa!) adalah mencoba mainan baru : Nike + iPod. Thanks to Dirgayuza yang bela-belain bawa dari Ozzie - yang kayanya iba lihat video gue :DDD
Gue tidak akan mereview secara detail tentang barang ini, toh sudah banyak review yang lebih canggih di luar sana - mengingat barang ini sudah dijual di pasaran sejak pertengahan tahun lalu. Dan dari lokal, saudara Agus sudah terlebih dahulu mencicip barang ini dan me-reviewnya. Gue hanya ingin bercerita sisi lain tentang Nike + iPod ini.
Begitu Nike + iPod di tangan, gue sudah merencanakan beberapa trik untuk mengakali bagaimana agar sensor ini bisa bekerja di sepatu non Nike. Daripada gue maksain beli Nike Airmax 180+ seharga 1 jutaan, mending Adidas butut gue yang dioptimalkan. Berbekal tutorial untuk nge-hack sensor Nike + ini, gue sudah menyiapkan barang-barang yang diperlukan. Singkat kata, Adidas butut gue ada sensor Nike + inside.
Dan dengan bantuan 'velcro' fastener, gue bisa pasang sensor ini di semua alas kaki, seperti sandal jepit busuk gue. Kebetulan gue ditugasi Dita untuk beli beras dan warung-nya rada jauh. Sekalian deh test-drive untuk kegiatan jalan jauh. Toh jalan kaki jarak jauh sebenarnya juga dianggap olahraga, kan?
Untuk kegiatan lari, konsentrasi irama lari & pernafasan gue sempat terpecah untuk terus memperhatikan layar iPod nano gue. Gue penasaran dengan tingkat ke-presisi-an dari informasi pace, distance & waktu yang gue lakukan. Hasilnya cukup memuaskan setelah dibandingkan dengan informasi dari GPS device (gue masih nenteng gadget satu ini - sekedar buat perbandingan saja). Dan akibatnya, lari gue jadi agak dipaksakan walau sedikit terasa lelah karena termotivasi suara feedback merdu dari iPod nano gue yang rajin memberi laporan jarak tempuh. Seperti disemangati oleh kaki gue sendiri.
Dengan bandwith 'butut', gue rada ngga sreg dengan web application Nikeplus. Jika untuk menjalin network tantangan dengan berbagai pelari seluruh dunia, web application ini sangat menyenangkan & memberi motivasi untuk menjadi yang terbaik. Namun jika hanya ingin melihat progress report kegiatan lari, kok yha mesti online. Untuk offline, preview di iTunes hanya tersedia info ala kadarnya, yang sebenarnya bisa cukup dilihat di layar iPod nano gue. Ada satu software yang jadi unggulan gue : TrailRunner. It's great! And best of all, it's free! Silakan baca review gue.
Sekali lagi, terima kasih kepada Yuza. Terima kasih sudah membuat kaki gue bolak-balik mengajak olahraga tiap pagi.
Semalas-malasnya, gue tetap perlu tahu rencana & progress kegiatan olahraga lari gue. Semua kudu tercatat dan terkontrol supaya gue tahu kapan berat badan gue yang membengkak ini bisa turun (padahal menu favorit nasi goreng kambing!!) dan badan sehat bisa buat nglembur-nglembur lagi. Gue membutuhkan sebuah software yang berfungsi sebagai database dan progress report untuk kegiatan olahraga lari gue. Web application punya NikePlus sudah cukup baik, namun alangkah baiknya jika ada software alternatif - yang tidak perlu online.
Click to enlarge
Pilihan gue jatuh pada Mac-only software : TrailRunner. Software gratisan ini cukup advance dan bisa menjadi partner Nike + iPod. Selain memiliki feature import data kegiatan lari yang tercatat di iPod nano, software ini juga bisa import data track & waypoint dari GPS - dengan catatan, saat olahraga lari harus menenteng GPS device. TrailRunner tidak membatasi jenis GPS device khusus seperti Garmin ForeRunner 201 tapi segala device seperti Garmin eTrex Summit gue. Dengan berbekal USB to serial cable, data dari GPS device bisa langsung terolah di TrailRunner.
Feature lainnya adalah import gambar peta. Gue ambil gambar peta komplek rumah gue dari Cybermap CBN.net.id dan dikalibrasi dengan 2 waypoint. Setelah terkalibrasi, gambar peta bisa digunakan untuk memperhitungkan jarak tempuh dan merancang rute-rute sesuai kebutuhan. Selain itu, TrailRunner bisa mengambil gambar-gambar peta dari jasa penyedia online WMS (world mapping services). Bahkan jika perlu mengambil dari gambar satelit Google Earth atau Flash Earth.
Click to enlarge
Setelah gue merancang rute & melihat report kegiatan, gue bisa mem-publikasikan report ini dalam bentuk blog. Bisa melalui FTP dan *cihuy* .Mac! Contohnya bisa dilihat di sini.
Selain mem-publikasikan ke blog, report & rute bisa gue export ke iPod - dengan menggunakan feature NanoMaps. Lewat iTunes, TrailRunner akan generate gambar berseri dari peta & rute yang dirancang ke iPod nano, sehingga pada saat gue lari nanti, gue bisa tetap pada jalur dan rute yang ditentukan dengan melihat layar iPod nano (menu Photos>Photo Library). Selain itu juge bisa lewat informasi text dengan membuka menu Extras>Notes>TrailRunner.
Gambar berseri NanoMap di layar iPod nano
Secara umum, buat gue pribadi software ini keren abis. Gue mendapatkan kesenangan baru dalam melakukan kegiatan berolahraga. Jika saat gue lari didukung oleh sensor Nike & iPod nano, setelah selesai gue bisa melihat catatan kegiatan dengan cara yang keren dan kalau perlu me-manaje rute lari gue. Tahu gini kan gue ngga perlu bermalas-malasan dari dulu. Dan kalau ada duit, gue ikhlas mau donasi buat TrainRunner.
Apple baru announce produk terbaru mereka : iPhone. Pada saat announcment produk tersebut, gue sengaja SMS-in temen-temen gue di kantor (jam 2 dini hari), supaya besok ketemu di kantor pada heboh. Benar saja, di kantin tidak habis-habisnya ngomongin si iPhone ini. Mulai dari decak kagum sampai wondering. Komentar "bentuknya-tidak-seperti-yang-diharapkan" paling sering disebut-sebut : biasa banget, kaya O2, frame silver-nya bikin ilfil dan sempat tercetus bahwa masih lebih keren desain-nya Newton. Yha selera orang beda-beda. Tapi jika melirik komentar teman-teman di milis id-mac & id-apple, reaksi negatif fisik iPhone juga terangkat. Walau toh ujung-ujungnya ada juga yang membela, seperti komen Boy Avianto (gue demen sama komen ini) :
Casing design. Hmm, saya waktu pertama kali liat iPod di gambar/foto terus terang tidak tertarik sama sekali =). Reaksinya biasa aja, ah another MP3 Player, looks cute and it's white, great but not so magically great.
Tapi waktu udah pegang dan nyobain... Lain cerita, langsung ada reaksi kimia antara tangan dan otak dan keluar pernyataan "I want to have this!!!"... Memang terkutuk desainer iPod hehehe.
Intinya, kalau hanya melihat dari foto atau gambar... Ehm, emang kurang afdol. Jadi menurut saya sih, don't judge the device from its pictures or photos. Kita liat aja nanti kalau udah beneran bisa dipegang.
Sentuhan kimiawi yang berlaku saat kita (misal) mengelus tangan pacar kita ternyata berlaku juga untuk produk-produk Apple, dalam hal ini iPhone (nantinya). Dan seterusnya, kita akan menemukan banyak inner beauty dari pacar.. ng .. maksudnya iPhone ini. Dengan melihat demo video-nya saja, gue bisa bilang bahwa produk ini revolusioner. Dan tentu saja, meninggalkan banyak tanya yang bikin penasaran. Silakan cek ke website-nya dan silakan berlatih mencubit layar iPhone untuk melakukan fungsi zoom. You'll see.
Untuk gue pribadi, hadirnya iPhone mengobati rindu akan lahirnya kembali Apple PDA setelah Newton dikubur dalam-dalam sejak Steve Jobs pulang ke Infinite Loops, Cupertino, California 10 tahun silam. Sudah saatnya mempensiunkan PalmOS gue, kembali ke pelukan Apple dan menabuh genderang racun pada pengguna Windows Mobile PDA di kantor gue. Sampai jumpa di tahun 2008!
Gue pada dasarnya adalah orang yang malas berolahraga. Terutama jika harus bangun pagi untuk melakukan kegiatan lari pagi. Namun, ternyata asik juga jika dilakukan sambil mendengarkan iPod. Apalagi plus dengan GPS & Palm, sehingga gue bisa tahu kecepatan & jarak lari gue dan dicatat di Palm pakai software MySportTraining. Lewat software ini, gue bisa mengetahui progress kegiatan lari & statistik gue. Paling tidak memotivasi gue untuk tetap berolahraga secara teratur dan terus menambah jarak tempuh lari.
Teman-teman gue menertawakan kegiatan lari pagi gue, "Lo mo lari atau pamer gadget? Mau lari aja ribet amat!" Iya juga sih. Tapi kalau ngga bawa GPS, gue ngga tahu kecepatan & jarak lari gue. Kalau ngga bawa Palm, gue ngga bisa mencatat menit-per-menit kegiatan gue.
Semua keribetan itu bisa diselesaikan dengan menggunakan sport kit dari Nike & iPod - menaruh sensor di sepatu dan data wirelessly diterima di iPod nano. Cool! This is what I need! Unfortunately, sampai sekarang alat seharga US$ 29 ini belum dijual di Indonesia! Dan rata-rata info yang gue terima dari gerai Nike, mereka berencana memasukkan barang tersebut ke Indonesia tahun depan. Sohib gue yang kerja dengan Apple pun membenarkan info tersebut.
Yah sudah. Gue tunggu saja deh sampai tahun depan saat barang ini datang ke Indonesia. Untuk sementara waktu, gue terpaksa berlari sambil nggotong-nggotong gadget. Walau sempat kejadian hampir kejeblos selokan hanya karena sibuk mencatat di Palm gue.
Iseng-iseng bikin TVC Nike + iPod versi Indonesia. Video ini juga kurang lebih menggambarkan apa yang gue lakukan selama ini. Siapa tahu ada pihak Nike atau Apple tergugah hatinya untuk sesegera mungkin menjual sport kit Nike + iPod ke gue. *you wish!*
Untuk format QuickTime movie MPEG 4, download di sini! (File size = 3,6 mb).
Pada penghelatan besar AMI 2006 ini, team graphic tempat gue kerja diberi kesempatan untuk mencoba alat VJ : Motion Dive : Tokyobuatan Roland. Rada ketar ketir juga setelah selama ini kami mengisi giant screen (LED) di panggung menggunakan PowerBook dan software ArkaosVJ seperti pada saat acara hajatan ulang tahun perusahaan tempat kami bekerja. Maklum, jika kami melakukan kesalahan akan langsung terlihat di panggung dengan ukuran besar, ditonton secara off air & on air! Tapi yha namanya dipinjamkan untuk dicoba, sayang juga kalau kesempatan ini diabaikan.
Kami melakukan konfigurasi sebagai berikut : - 1 modul MotionDive:Tokyo dengan PowerBook G4 ke LED pendukung - 1 modul MotionDive:Tokyo dengan MacBook ke LED lantai - 1 ArkaosVJ dengan PowerBook G4 ke LED utama - 1 iMac Intel sebagai image/motion graphic processing (bahasa melayunya : buat bikin graphic dadakan instant) - 1 video mixer EDIROL V4 untuk mengakomodir kebutuhan video/DVD player (Lihat skema)
Cara kerja yang kami lakukan selama ini dengan ArkaosVJ, ternyata sedikit banyak berbeda saat mengoperasikan modul Motion Dive : Tokyo. Jika dengan ArkaosVJ kami tinggal assign untuk satu file movie ke satu key di keyboard, dengan Motion Dive : Tokyo hanya dibatasi 2 source (source A & B) untuk sekali performance. Kira-kira seperti pola kerja mixer DJ - source A & B saling crossover gonta ganti.
Canggung, gamang, was-was menghiasi perasaan kami saat rehearsal. Namun seiring dengan berjalannya waktu, tanpa sadar kami jadi enjoy dan having fun. Bahkan saat acara dimulai, perlahan rasa pe-de kami tumbuh. ArkaosVJ berjalan seiring bersama Motion Dive : Tokyo, dibantu dengan video switcher EDIROL V4.
EDIROL V4 Video Mixer
Sempat terjadi masalah saat Motion Dive : Tokyo crash dan quit. Alhasil : layar LED raksasa terisi gambar desktop PowerBook G4 (untung bukan foto Maria Eva) dan team grafis (termasuk gue) panik jumpalitan ngga karuan. Kemungkinan memang masalah di PowerBook G4 yang sudah harus di optimize. Setelah solved, kami menenangkan diri sejenak dan kembali bermain-main hingga acara selesai.
Interface Motion Dive : Tokyo
Dari hasil bermain kami dengan Motion Dive : Tokyo, terdapat beberapa plus minus yang bisa disimpulkan. Plus :
Sangat responsif saat assign file movie, sehingga performance permainan grafis bisa terjaga
Interface dengan thumbnail browser, memudahkan navigasi untuk mengenali masing-masing file movie yang akan diassign
Bisa sync dengan MIDI
Kecepatan file movie bisa diatur sesuai BPM atau menggunakan source dari MIDI
Text editor dengan beberapa effect text
Fungsi colorize sehingga bisa mengikuti pola warna dari lighting instantly
Minus (berdasarkan pengamatan sesaat) :
Tidak ada feature ganti jenis huruf untuk text editor
Screen jadi black saat melakukan import file, termasuk giant screen di panggung jika tersambung
Jika file terlalu besar (lebih dari 30 mb) mempengaruhi performance tampilan - patah-patah, muncul scanline - Kemungkinan besar pengaruh faktor graphic card yang digunakan
Feature colorize jadi tidak efektif karena kualitas movie jadi 'hancur' seperti efek posterize
Tidak ada fungsi preview sebelum tayang
Untuk masuk ke giant screen (second monitor di PowerBook), gambar movie harus didrag ke luar screen komputer
Sekali lagi, kesimpulan ini berdasarkan pengamatan sesaat selama acara berlangsung. Kami memang harus ngoprek lebih mendalam lagi. Secara overall, alat ini cukup membantu dan memberi banyak kemungkinan-kemungkinan baru yang sebelumnya tidak bisa dilakukan di ArkaosVJ. Bahkan penggabungan ArkaosVJ & Motion Dive : Tokyo bisa menghasilkan sesuatu yang lebih dahsyat. Tunggu pertunjukkan kami selanjutnya di acara Tahun Baru 2007 di RCTI *ceile*
Motion Dive : Tokyo & Edirol V4 provided by Mila Music Jl. RS Fatmawati Raya no 15 Komp Golden Plaza Blok C12A-14 Jakarta Selatan 12430 Telp 021 7656057
Jangan salah paham. ex86 di sini bukan project x86 seperti yang dilakukan orang-orang untuk menjalankan MacOS X di PC. Tapi ex atau mantan 1986, alias project iseng-iseng menjalankan Macintosh Plus buatan 1986 di MacOS X. Sekedar ingin nostalgia 20 tahun yang lalu saat gue pertama kalinya bertatap-tatapan dengan Macintosh setelah sekian lama hidup dalam rimba gelap DOS di PC.
The legendary startup screen "Welcome to Macintosh" in my MacOS X Desktop
Sebenarnya hal ini bukan hal baru, apalagi software emulator Mac classic seperti VMAC sudah ada sejak 1997. Gue baru coba-coba sekitar tahun 2000 silam setelah mendapatkan ROM Macintosh Classic. ROM ini gue dapat diam-diam di web, karena rasanya susah juga cari Macintosh Classic di sekitar kita untuk diambil ROM-nya.
Anyway, setelah mendapatkan System 6 sebagai startup system, gue install dan BEEP (bunyi khas Macintosh tua) gue langsung serasa dibawa ke alam 20 tahun lalu. Layar hitam putihnya, icon sederhananya, logo Apple hitamnya, menu barnya, trash iconnya, control panelnya. Gue ngga tahu kata-kata yang tepat buat menggambarkannya, tapi analoginya seperti orang yang biasa naik motor Honda MegaPro tiba-tiba merasakan naik motor bebek Honda 70-an. Apalagi jika memang pernah punya kenangan tersendiri dengan Honda 70-annya. Istilahnya : ada-sensasi-yang-gimana-gitu-looocchh.
The great-great-great grandfather of all computer desktop with Disk, Trash, Menubar.
The grandfather of all computer desktop with Disk, Trash, Menubar.
"Get Info" Startup Disk System 6 besar file-nya hanya 1,4 mega dan 21 file di dalam System Folder-nya(click to enlarge)
Mbahnya "Control Panel" & multitasking semua operating system (click to enlarge)
Setelah semua jalan, gue mencoba menjalankan System & Finder versi 1, operating system orisinal yang digunakan tahun 1984. Cuma sayang gagal total. Entah mengapa, setiap Start UP selalu muncul SAD MAC dengan kode 0F000B. Mungkin masalah kompatibilitas di format disk image yang gue pakai.
The original Macintosh operating system dan nongol SAD MAC saat restart (click to enlarge)
Ada satu hal lagi yang membuat gue 'ngotot' ngoprek Macintosh jadul ini : main game King's Quest pertama! Wahai para game freak, terutama pecinta game RPG, ini lah mbah-nya game RPG. Gue masih ada disk image-nya (disk aslinya sudah jamuran) dan langsung gue coba. Cihuy! It works! Sir Graham's original journey in my QuickSilver G4!
Ladies & gentleman, Roberta Williams present you : King's Quest! (click to enlarge)
Buat sementara orang - terutama Martino temen kantor gue yang ngoprek abis project X86 - apa yang gue lakukan bener-bener dianggap kurang kerjaan. Tapi buat orang-orang yang dulu pernah mengalami jatuh cinta pandangan pertama dengan Mac di era pertengahan 80-an, journey ini bukan sekedar nostalgia. Sejarah dan masa lalu bukan hanya sekedar untuk dikenang, tapi untuk diresapi dan menjadi bekal di masa depan, masanya Leopard.
Buat gue pribadi, mouse beige ini adalah yang terseksi di jamannya. Simple, slim, smooth, symetric, square.
Button-nya mengingatkan gue akan layar iPod, khususnya iPod nano. Di bawahnya, lingkaran bola-nya mirip jog-wheel iPod generasi pertama. Dan port ADB-nya memperkuat kesan jadul. wakakakakakak.. Mouse ini bawaannya Quadra 700, Mac pertama yang bisa gue punya dulu. Seumur-umur baru bisa pegang hardware Apple, alhasil mousenya jadi sering gue belai dan elus-elus.
Pas lagi bongkar-bongkar, nemu si cantik ini dalam kondisi bluwek berdebu. Gue bersihin pakai busa micro-fibre jadi kinclong lagi. Belum dicoba apakah masih nyala atau sudah tewas, maklum semua Mac di rumah sudah USB semua. Iseng-iseng gue foto, sebagai bentuk apresiasi karya desain dari Apple.
Malas belajar. Itu yang membuat gue terlambat menggunakan Apple's KeyNote setiap melakukan presentasi. Selama bertahun-tahun gue setia (gulp) menggunakan Microsoft PowerPoint. Awal mulai sering presentasi adalah saat gue jadi dosen tamu di Bina Nusantara di tahun 2002. PowerPoint jadi andalan gue. Sebenarnya 'andalan' bukan kata yang tepat, tapi hanya karena belum nemu software presentasi yang cocok saat itu. Mungkin kata yang tepat adalah 'kepepet'.
Presentasi yang gue lakukan bukan sekedar 'info delivery' tapi lebih bersifat 'persuasion'. Dan gue menggunakan file video karena seusai dengan bidang gue : komunikasi visual, audio visual, animasi & motion graphic. Pada saat dealing dengan file video, PowerPoint terasa clunky. Contohnya, file video selalu pada layer paling atas, sehingga tidak bisa gue gunakan sebagai latar belakang. Juga tidak ada transisi keluar masuk pada elemen file video.
Akhirnya gue memaksakan diri untuk mencoba ngoprek KeyNote setelah ada undangan jadi 'tukang cuap-cuap' di sebuah sesi diskusi pada acara Konfiden beberapa waktu lalu. Wah! Gue yang tadinya cuma sekedar import file PowerPoint dan merapikan ala kadarnya, jadinya malah ketagihan eksperimen sampai subuh. Gue bisa menggunakan background animasi full screen! Dan transisi keluar masuk kalimat berjalan mulus tumpang tindih dengan materi video di layer belakangnya. Feature kosmetiknya seperti pengaturan Opacity & Drop Shadow benar-benar memikat. Apalagi themes-themes KeyNote sangat kreatif, beda dengan themes PowerPoint yang sangat 'kantoran'. Dalam hati gue, "Ni die ni, software presentasi yang gue bang-get!"
Animasi/video bisa menjadi background template tanpa mengganggu transisi teks (click to enlarge)
Seterlambat-lambatnya gue pakai KeyNote, masih untung pada saat gue dipercaya untuk 'cuap-cuap' pada acara Training id-Mac di iBox tanggal 2 Desember 2006 kemarin, gue sudah cukup mahir menggunakan KeyNote. Jadi, ngga malu-maluin banget lah. :D
Martino dan x86-nya. Lampu biru di jeroan CPU-nya ngga nahan, Tin.
Fenomena Windows user yang switch ke Mac sudah biasa dan umum. Tapi di kantor gue ada fenomena lain lagi yang bertujuan nge-switch Mac user. Bukan membuat orang switch ke Windows, tapi switch ke x86 platform. Apa tuh istilahnya? Switch the switcher? Switch Mac User to 'Mac' (with quotes)? Switch Mac User to Crippled Mac? *muahahahahahahaha*
Oknumnya adalah Martino dan Yoswar. Mereka terus mempertanyakan kepada para Mac User : "Dengan duit 10 juta, lo lebih milih beli iMac intel atau platform x86?" Propaganda ini cukup membuat beberapa Mac User bergeming, terutama bagi yang lagi butuh Mac baru tapi dompet isinya cuma bon utang. Beberapa orang (termasuk gue) terus terang saja cukup tergoda. Apalagi lagi musim-musimnya harga Mac yang cepet turun. Salah satunya adalah teman kantor gue juga yang baru beli iMac intel - belum sebulan sudah muncul iMac Core 2 Duo dengan harga tidak berselisih jauh. "Tau gitu mending gue ke mangdu beli platform x86 dan customized" rintih salah seorang teman.
Yes it's relatively cheap. It's custom-able. Tapi hati gue masih belum sepenuhnya ingin langsung menggantikan QuickSilver G4 gue. Gue lagi ngga ingin terlalu 'ngoprek'. Namanya juga 'crippled', pasti ada satu titik masalah kompatibilas hardware. Apalagi si Martino nemu kasus - yang saat ini - belum terselesaikan : x86-nya setiap bangun dari Sleep-nya langsung minta restart. *muahahahahahahaha*
Let's face it, Martino. Seperti yang kita obrolin di kantin, kalian semua para peng-oprek x86 sedang dimanfaatkan Apple. Daripada mereka (baca : Apple) bikin divisi khusus untuk melakukan observasi & eksperimen, mending diserahkan saja hasilnya pada kalian. Soon, begitu terlihat hasilnya - bahwa OS X bisa sepenuhnya jalan sempurna di non-Apple hardware - Apple akan langsung memutuskan membeli right hasil oprekan kalian dan menyatakan bahwa kegiatan ngoprek x86 adalah ilegal. *muahahahahahahahaha*
3 anggota keluarga melakukan kegiatan dengan gadget-nya masing-masing (yang satu masih bayi 2 bulan cuma bisa bobok di dalam gendongan ibunya) : Dita sibuk browsing wi-fi di foodcourt PIM 2 dengan PowerBook G4 12", Arwen (2 tahun) sibuk nonton video kartun di Sony Clie UX50 dan gue sibuk mendokumentasikan mereka dengan kamera Nikon P1.
Salah seorang pengunjung bertanya ke gue, "Apple apa tuh kecil banget, mas?" sambil nunjuk ke Sony Clie yang ditempelin stiker Apple. Sambil mesem-mesem gue bilang, "Oh itu 'baby PowerBook' buat hiburan anak saya."